Wedding of Marwa and AldiWedding of Marwa and Aldi - 18 September 2022

Kami menikah di 18 September 2022, saat usia kami masing-masing 25 tahun. Kurang lebih sudah lima bulan usia pernikahan kami. Kalau difikir-fikir, waktu cepat sekali belalu. Rasanya baru kemarin kami pusing mikirin vendor-vendor untuk pernikahan, muter otak untuk cari revenue stream tambahan, urus berkas pernikahan, sampai mikirin bakal tinggal di mana setelah menikah. Semua kepusingan ini mau enggak mau perlu dijalani untuk meminimalisasi resiko.

Kalau berkaca pada perjalanannya, kadang ada kebanggaan tersendiri, karena kami mampu melewatinya bersama-sama.

Out of nowhere, sewaktu masing lanjang, saya pernah berbagi cerita di sebuah whatsapp group tentang kebiasaan saya yang kemana-mana sendiri, berusaha mandiri dengan berpenghasilan, jarang hangout, dan lebih suka berdiam diri di rumah sewaktu libur. Seorang teman dengan entangnya membalas cerita saya, kurang lebih begini, “Nikah gih! Nikah tuh enak lho. Biar kamu enggak kesepian gitu”. Rasa-rasanya agak enggak nyambung memang balasan dia. Dalam hati saya pengen bilang, “Dude, I’m not lonely. I’m just an introvert who needs time to change my energy during my leasure. And, by the way, as long as I know, getting married doesn’t guarantee you’ll not feeling lonely”.

Ternyata hal ini dilumprahkan di masyarakat kita ya? Menormalisir romansa untuk menyelesaikan segala macam permasalahan hidup. Seolah semua hal tuh ujung-ujungnya terselesaikan dengan menikah. Saya jadi takut, fase hidup ini diberi beban yang begitu berat oleh ego kita sendiri dan justru membuat kita lupa atas esensi pentingnya.

Justru karena bertemu dengan orang-orang kaya gini, membuat saya tidak puas dan terus mencari alasan yang tepat untuk akhirnya memilih untuk menikah. Saya tidak ingin menikah hanya untuk menjawab pertanyaan “kapan nikah?” atau sekedar menghidari “kesepian”. Saya ingin memiliki misi yang jelas untuk salah satu fase hidup ini.

Baca juga:  Bertentangan

Lambat laun, semakin bertambahnya usia membuat saya jadi lebih dekat dengan diri sendiri dan mengerti betul apa yang saya butuhkan. Belajar juga sembuhkan luka, ketakutan, trauma dan lainnya secara perlahan. Meskipun prosesnya masih berjalan sampai sekarang dan pula tidak semua hal berjalan seperti yang kita mau, namun begitulah hidup, bukan? Penuh dengan kompromi atas banyak hal. Proses memaafkan dan menerima keadaan, membuat saya akhirnya berani untuk menikah.

Apakah pernah merasa ragu?

Tentu saja.

Manusia selalu diliputi rasa ragu dan takut saat memulai sesuatu yang baru. Takut jika dengan menikah akan menjadi individu lain. Takut jika kebebasan bakal direnggut. Takut ina, takut itu. Pokoknya banyak deh.

Di tengah semua keraguan, saya diberikan jalan untuk memahami bahwa menikah tujuannya adalah mendekatkan diri kepadaNya. Sebuah ayat di Quran yang selalu menyentuh hati saya di tengah perjalanan ini adalah “Allah ciptakan manusia berpasang-pasangan agar bisa mengingat kebesaranNya” dan dengan menikah, Allah akan dicukupkan rezeki dan kebahagiaan sehingga tercapai Sakinah Mawaddah Wa Rahmah dalam setiap anggota rumah tangga.

That’s my mission, and it turns out to be ours. Having Sakinah Mawaddah Wa Rahmah dalam diri kita. Bukan kah itu indah sekali? Saya percaya memiliki misi yang jernih dan jelas akan memotivasi kita untuk menjalaninya dengan penuh kemantapan hati.

Dengan menyamakan tujuan dan misi dengan Aldi (masih calon suami kala itu) membuat saya semakin yakin dan mantap akan menjalani the rest of my life with him. I know we’re not perfect, but what’s perfection, anyway? It doesn’t exist :’)

Leave a Reply

Discover more from Blossom Laden

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading