Baru-baru ini, secara kebetulan saya bertemu dengan kawan lama di suatu tempat. Sewajarnya kawan lama, tegur sapa atau saling melempar senyum adalah kewajiban agar timbul kesan pertemanan yang baik, namun apa yang saya alami adalah sebaliknya. Teringat jelas bagaimana caranya memalingkan muka seolah memang tidak pernah saling kenal sebelumnya. Seutas senyum yang saya alamatkan padanya tampaknya telah menyasar entah kemana. Saya tersadar, memang ada sesuatu yang sudah tak sama lagi di antara kami berdua.

Sebagai manusia yang terlahir cukup sensitif, mengalami hal di atas sungguh sesuatu yang cukup menyesakan. Namun beruntung, saya cukup terlatih menjadi orang yang pada akhirnya memilih tidak terlalu memikirkannya.

Tempo hari, saya bertemu dengan kawan lama lainnya. Kami menyengajakan diri bertemu di kota asal guna menyambung silaturahmi dalam sebuah makan siang berdua—lebih tepatnya bertiga, bersama anak laki-lakinya yang menggemaskan. Kebetulan dia berkuliah di kampus yang sama, percakapan kami cukup luas ketika itu dari hal remeh-temeh sampai pembahasan seputar kampus.

Ini merupakan hal yang tidak wajar untuk saya, karena pada dasarnya ketika di bangku sekolah dulu, saya terkenal tertutup dengan siapapun sehingga saya—seolah menjadi—terlihat anti-social person. Tidak pernah ikut organisasi karena fokus belajar. Sekolah-Pulang-Sekolah-Pulang, hobbynya baca buku, menjadi manusia earphone, movies-addict, tidak suka ke kantin, lebih sering menyendiri belajar layaknya nerd-nerd lain di dunia ini. Lingkar pertemanan saya segitu-segitu aja. Tidak banyak berinteraksi dengan banyak orang, hanya beberapa yang bisa disebut teman—bukan sahabat. Karena ketika itu saya berfikir, berteman dengan banyak orang akan membuat fokus saya berantakan. Cukup beberapa, namun berharga. Jika tidak salah ingat, prinsip saya ketika itu adalah: Sometimes in real life, familiarity breeds contempt (kadang dalam kenyataannya, keakrapan menimbulkan benih kebencian). Saya akui sekarang, cukup anti-mainstream juga pemikiran saya ketika itu. Akhirnya kurang lebih telah melahirkan prejudice bahwa saya adalah makhluk yang anti-social dan tidak peduli kepada sesama.

Baca juga:  Alasan Memilih Sewa Rumah Setelah Menikah

Percakapan kami begitu menarik. Lebih banyak nostalgia berujung tawa. Hingga di ujung pertemuan. Dengan lugas teman saya berkata, “Marwa tidak berubah kok.”

Lantas perkataan tersebut menggugah saya yang sedang asik menyantap makan siang. Sontak, saya tertawa menanggapinya, memangnya saya berubah jadi apa?

Dia bilang jika beberapa teman lama saya membicarakan jika saya yang dulu dan sekarang beda, banget! What an earth is going on?!

Saya menanggapinya dengan senyuman, saya yakin apa yang saya dapatkan sekarang adalah buah dari benih yang saya tanam sejak lama. Jika dibilang berubah, saya mengiyakannya—meskipun tidak sepenuhnya. Bukankah benih yang dikelola baik akan tumbuh menjadi pohon yang bermanfaat? Hidup memang berproses, kawan. Tidak ada yang statis di dunia ini. Semua hal berjalan dengan dinamis.

Siapapun yang berkata orang lain berubah adalah orang yang sesungguhnya tidak berkaca dengan dirinya sendiri. Saya percaya mereka pun berubah tanpa mereka sadari. Jika tidak mengakuinya, berarti mereka membatu dengan pikirannya sendiri. Yang lebih menyedihkan justru sibuk mengkambinghitamkan perubahan orang lain, padahal kenyataannya mereka hanya tidak suka dengan perubahan orang lain tersebut.

Seseorang yang meneriaki kita dengan kamu tidak sama kaya dulu, kamu berubah, sekarang kok beda, dst adalah orang tidak suka melihat orang lain berproses dari benih menuju pohon. Dari proses bodoh menjadi pandai. Tidak memiliki menjadi mempunyai sepenuhnya. Dari tidak bisa menjadi bisa. Dari malas menjadi rajin. Dari miskin menjadi kaya. Selalu ada celah yang dibicarakan. Banyak sekali orang yang tidak mau mengerti.

Saya akui proses perkuliahan merubah saya ke arah yang—saya percaya—lebih baik. Bukan hanya akademik, ada banyak ilmu di luar itu semua yang saya dapatkan. Saya mengikuti kata hati untuk mengembangkan diri dalam bidang keorganisasian. Untuk pertama kalinya juga saya mencoba bekerja paruh waktu sembari kuliah hingga kurang tidur, melahirkan kantung mata, sampai beberapa kali jatuh sakit. Berkenalan dengan orang-orang hebat. Bertemu dengan sahabat-sahabat penuh toleransi dan kasih sayang. Merasakan jatuh bangun mengelola keuangan, pola hidup dan masa depan. Saya merasa jauh lebih mengenal diri. Saya merasa jauh lebih mandiri dalam berbagai hal. Meskipun pada masa penyesuaian tersebut tidak pernah mudah untuk saya.

Baca juga:  Pekerjaan Impian?

Proses memang tidak pernah mudah bukan? Sebuah perjuangan penuh pengorbanan. Di perjalanannya selalu ada yang pro dan kontra seiring berkembangnya pola pikir kita. Sudah berapa teman akhirnya tersingkir dalam keberterimaan tersebut. Saya sepenuhnya percaya bahwa teman yang baik tidak hanya lahir dalam keadaan susah, namun teman yang mau menerima proses kita dengan baik. Teman yang ketika kita sukses, ikut tersenyum bersama kita. Bukan diam-diam tidak suka, iri, membanding-bandingkan diri kita yang sekarang dan dulu, menyingkir dan mengkambinghitamkan proses kita dengan berkata kamu beda sekarang.

20190806_1229181114161032659685957.jpg
Bunga kertas ini telah menyampaikan pesannya, bahwa sehelai kertas pun mampu menyusunnya dan membuatnya jauh lebih berharga.

Kembali ke cerita paling awal. Apa yang saya lakukan setelahnya adalah: Saya tetap berjalan tanpa perlu risau memikirkan. Sekarang saya tahu alamat yang tepat dari senyum yang saya lontarkan. Senyum tersebut kembali pada diri ini. Jika suatu hari ada kesempatan bersua lagi, saya akan memberikannya kembali. Semoga Tuhan selalu memberikan kebaikan untuk orang-orang yang tulus dalam berbagai hal. Kesenjangan rasa ini hanya akan terterima dengan hati yang tulus.

Selamat malam, kawan!

Leave a Reply

Discover more from Blossom Laden

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading