Dimana diri menangis dan merana, bercerita hanya dari dan untuk diri, telah memberikan pemahaman yang tidak ternilai.

Saya merasa beruntung, saya adalah makhluk yang percaya bahwa ketikapun saya sendirian sebagai manusia dan dari manusia, bentuk sempurna dari sang pencipta tidak akan meninggalkan saya.

Bercerita seperti seolah ada yang mendengarkan, mengelus punggungku yang letih, hatiku yang remuk, pikiran yang kacau, beban yang dirasa berat, impian yang jauh dari frasa hampir sampai.

Seolah berkata, “Kau akan baik-baik saja, bersabarlah, akan kugantikan semua upaya dengan hasil yang paling tepat.”

Saat paling romantis adalah ketika Ia mampu memahami, bahkan ketika tangis tidak lagi berbahasa seperti manusia.

Seperti bayi yang sedang menangis, tak mampu mengutarakan apa yg dikehendakinya. Bukan tak ingin, namun tak kuasa.

Mulut bungkam untuk bercerita, karena tak kunjung benar adanya. Air mata adalah bentuk pengekpresian emosi yang paling sempurna setelah berusaha mendiamkan.

Hingga pada akhirnya menginggalkan sesenggukan jiwa, namun setidaknya mereda.

Baca juga:  Random-nya Ramadhan 2019

Leave a Reply

Discover more from Blossom Laden

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading