Sebenarnya cukup mengenaskan melihat banyak orang kelaparan, tidak memiliki tempat berlindung, merana tanpa asupan pendidikan, bahkan kasih sayang.

Kemiskinan kadang meradang diperparah dengan kebijakan politik yang keliru dan kurang amanah. Ditambah lagi dengan tindak pencurian yang di lakukan dengan cerdas oleh oknum yang tidak lagi punya hati. Merampas apa yang bukan haknya.

Namun, pada sesi kali ini, saya belum berkeinginan untuk menulis lebih lanjut perkara berat seperti di atas. Saya ingin menyampaikan segelumit cerita sederana yang ada di sekitar untuk diambil pembelajaran.

Kejujuran memang bukan perkara mudah. Jujur menilai diri sendiri saja kadang masih sulit, apalagi jujur terhadap orang lain. Jujur kepada bawahan, ketika kita menjadi pemimpin. Jujur memeriksa tagihan. Jujur ketika belajar, tidak curang saat mengerjakan tugas atau ujian. Jujur ketika bekerja, amanah terhadap pekerjaan dan resikonya. Jujur tanpa titip absen di kelas, bagi mahasiswa. Jujur menyampaikan amanah. Jujur ketika berdagang. Begitu banyak contoh bentuk kejujuran, saking banyaknya, membuat orang lain pusing dan lalai akannya.

Bersikap jujur—memang—tidak mudah (kadang beberapa bilang tidak enak) jika tidak disertai dengan pembiasaan. Dan pembiasaan bisa dimulai dengan memaksa diri, memberikan punishment jika melanggar, dan intinya dilakukan secara berkala dan bertujuan.

Salah satu rekan dekat saya pernah bilang, “lebih baik berpura-pura diawal dari pada tidak melakukannya,” saya tertegun sejenak. Ia melanjutkan dengan sentilan khasnya, “pokoknya pura-pura aja terus, sampai kamu lupa kalau sedang berpura-pura”.

Tidak salah memang memulainya dengan berpura-pura. Sepertinya, sebagai makhluk yang lemah iman ini, kudu banyak berpura-pura kuat iman sampai lupa kalau sedang berpura-pura.

Ikhlas menjalani juga bisa dimulai dengan berpura-pura sebelumnya, namun setelahnya jangan lupa melupakan kalau kita berpura-pura. Karena definisi ikhlas kan tidak sebatas itu.

Baca juga:  Alasan Memilih Sewa Rumah Setelah Menikah

Ibu saya selalu berkata bahwa berbuat baik itu jangan diingat-ingat, nanti enggak jadi berkah kalau diungkit dan dibicarakan terus-menerus. Begitupun bersikap jujur. Beneran deh, jujur tuh lebih nyaman dirasakan.

Dan kalau jujur sudah menjadi bagian dari gaya hidup, saya yakin bahwa sekalinya kamu berbohong bahkan jika hanya kepada dirimu sendiri, rasanya akan menyesal dan dirundung kegelisahan, jika sudah begitu, dirimu adalah pelajar yang baik. Ketikapun dunia belum berbaik hati ketika kamu jujur sekarang, saya yakin suatu saat nanti akan dibalaskan dengan berjuta kebaikan yang tidak disangka-sangka.

Mari bersikap jujur, semoga kita selalu beruntung.

Leave a Reply

Discover more from Blossom Laden

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading