Melihat judulnya, mungkin beberapa diantara kalian akan berfikir tentang hal-hal positif yang yang akan saya jabarkan, namun sepertinya Anda perlu bersiap untuk kesimpulan yang sebaliknya, setelah menyelesaikan tulisan sederhana saya ini.

Mari kita mulai!

Sungguh perjalanan ini penuh dengan gula-gula dan huru-hara. Melihat kemilau dan gemerlapnya kehidupan antar manusia membuat saya ingin menuliskan sesuatu tentangnya. Kehidupan manusia yang tampak menyenangkan, membahagiakan, sempurna dan tanpa celah—rapi dan tertata-–memang menarik dan tidak akan ada habisnya untuk dibicarakan.

Kadang terbesit dalam benak, bagaimana bisa semudah itu? Bahkan jika dibandingkan dengan upaya dan kehidupan saya, sama sekali jauh dari kata dekat. Tentu saja karena saya melihat, menggunakan kemampuan empiris dalam menilai, sungguh! Tidak terelakan karena pada dasarnya, manusia adalah makhluk visual. Nah! Disini nih letak menariknya.

Oleh karenanya, beberapa orang mencoba sekeras mungkin menampakan apa yang ingin di tunjukannya di depan orang lainnya—secara visual. Secara visual, mereka memperlihatkan apa yang mereka miliki, gemari, atau kemampuan mereka dalam beberapa hal.

Sebagai contoh, tempo hari, dunia hiburan tanah air digemparkan dengan perceraian salah satu pekerjanya. Sebagaimana kita tahu, cerita romansa selalu menarik untuk disajikan, diceritakan bagi beberapa–read:kebanyakan—kalangan di sini. Sebagaimana sebuah perceraian, sangat disayangkan memang. Para penikmat melampiaskan kekecewaan mereka dengan cara yang berlebihan kadang, seperti menghujat, menghina, sampai menyalahkan dengan sepihak.

Sebenarnya kalau boleh saya berpendapat, itu semua karena para penikmat lebih banyak disuguhkan dengan manisnya sisi kehidupan milik pekerja hiburan tersebut. Manis seperti gula-gula. Bayangkan saja! Setiap harinya bahkan setiap jamnya, mereka dipertontonkan kehidupan menarik nan sempurna yang disajikan oleh sepasang manusia. Karena memang penonton tidak akan tertarik, jika cerita yang disajikan tidak lagi sempurna. Tuntutan itu seolah telah memaksa realita yang ada untuk di poles semenarik mungkin, semulus mungkin.

Baca juga:  Sebuah Tulisan untuk 10 November 2019

Ini mengingatkan saya pula pada satu pepatah jawa yang–-untuk sebagian etnis Jawa—tidak asing lagi.

“Ajining diri seko lathi, ajining raga seko busana”

Jika saya terjemahkan dalam Bahasa Indonesia:

“Kehormatan diri bersumber dari ucapan, kehormatan pula dinilai atau dilihat dari apa yang dikenakannya.”

Indah sekali, kalimat yang menarik. Betapa orang dulu menanamkan tata dan kelakuan yang baik untuk diterapkan. Sebuah peribahasa yang mestinya mengajarkan agar kita menjadi manusia yang beradab, berbicara dengan santun, dan mengenakan pakaian dengan baik dan sopan.

Namun begini rekan-rekan, apakah berlebihan jika saya menulis bahwa kalimat indah di atas memiliki dua sisi mata uang? Izinkan saya untuk menjelaskannya.

Seperti menemukan benang merahnya, saya justru berfikir, secara alam bawah sadar, mungkin ini alasan kenapa beberapa orang merasa rendah diri ketika melihat orang lain – yang kelihatannya lebih baik darinya. Semacam syndrome inferiority complex, syndrome rendah diri. Merasa inferior ketika melihat penampilan orang lain dari fisik, gaya rambut, berjilbab, pakaian, hingga cara bicara orang lain. Saya berkata demikian karena banyak bertanya dan berdiskusi tentang rekan saya yang kebetulan etnis Jawa, dan memahami betul peribahasa diatas. Padahal belum tentu orang yang di luar tampak sempurna, sesempurna itu.

Kadang, first impression menjadi senjata yang ampuh membuat orang lain merasa rendah diri. Padahal, untuk mengenal lebih jauh kepribadian atau kemampuan seseorang tidak secepat itu.

Porsi kebahagian dan kesedihan setiap manusia memang bervariasi, tidak sama takarannya. Pasti ada kurang dan lebihnya. Bayangkan betapa monotonnya jika dunia diisi oleh manusia yang memiliki porsi yang sama, akan sangat membosankan sekali.

Kompleksitas makna sempurna memang relatif, di era seperti ini menerjemahkannya memang tidak mudah, jadilah manusia yang jujur-–setidaknya terhadap diri sendiri dan tidak merugikan orang lain.

Baca juga:  Bekerja di Tanggal Merah, Siapa Takut!

Kembali lagi, apa yang nampak sempurna belum tentu begitu adanya. Kita patut bersyukur dengan apa yang kita miliki, dengan kemampuan kita atau empati kita yang beberapa orang mungkin kurang. Tersenyum dan mencintai diri kita yang jauh dari sempurna ini tanpa melihat atau membandingkannya dengan kehidupan orang lain.

Terimakasih, hati-hati di jalan.

One thought on “Tampak Sempurna dalam Ketidaksempurnaan”

Leave a Reply

Discover more from Blossom Laden

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading