Bekerja di Tanggal merahBekerja di Tanggal merah

Berhubung saya bekerja di departemen pelayanan 24 jam maka bekerja di tanggal-tanggal merah bukan hal baru untuk saya. Meskipun begitu, selalu ada hal asik yang bisa saya jalani setiap hendak memulai bekerja. Salah satu yang memotivasi adalah “mau dengerin lagu apa saja ya sepanjang kerja nanti?” Selain mempersiapkan segelas kopi, playlist musik wajib hukumnya untuk saya.

Kebetulan saya menulis tulisan ini di ruang tamu dan di saat load pekerjaan yang mulai landai, jadi sembari mengisi waktu, saya sempatkan menulis apa saja yang sedang saya ingin ceritakan 3 hari terakhir (1-3 Mei 2022).  

Persiapan lebaran, pasca lebaran dan acara-acara lainnya di awal bulan ini cukup challenging untuk saya. Di antara kesibukan, saya pun menantang diri untuk mengambil jatah bekerja di libur lebaran dan tanggal merah di sela-sela padatnya agenda. Sebenarnya kantor ada fasilitas cuti (paid leave), unpaid leave atau tukar jadwal untuk rekan yang ingin mengambil libur, namun saya punya pertimbangan lainnya.

Saya mengambil beberapa tanggal merah dengan pertimbangan: mendapatkan pengalaman bekerja di hari raya dan tunjangan/bonusnya. Voila! Ternyata bekerja di hari raya enak juga, load pekerjaan tidak setinggi biasanya, bahkan di sela-sela istirahat saya masih bisa beberes rumah dan mengurusi tamu selama lebaran.

Meskipun demikian, pemikiran di atas bisa saja tidak sejalan dengan beberapa orang. Ada yang menganggap jika bekerja di tanggal merah tuh kasihan, karena tidak leluasa merayakan hari raya. Meskipun dalam hati sangat menyayangkan. Karena prinsip saya, selagi masih muda, kenapa tidak ambil sebanyak-banyaknya kesempatan baru? Toh anak muda lebih banyak energi untuk bisa belajar hal baru. Takutnya keburu tua dan nanti menyesal tidak berani mencoba.

Baca juga:  Mengelola Emosi, Menerima Keadaan dan Memaafkan

Namun terlepas dari itu semua, bisa saya pastikan, fikiran mereka sama sekali tidak mengurangi rasa bangga atas pilihan yang saya ambil kali ini. Bisa dibilang, saya menikmati pekerjaan yang saya geluti. Baik industrinya atau bidang pekerjaannya. Yang saya percaya, setiap pekerjaan ada konsekuensinya masing-masing. Kembali ke pekerjaan saat ini, hal yang patut saya syukuri, konsekuensinya sesuai dengan batasan yang saya buat.

Take away that you can get from this: Do what matters to you, no matter what people are gonna say about it, as long as you’re happy and love your productivity, keep going. Utamakan dirimu, kamu yang lebih tahu kemampuan dan juga rencana-rencanamu. Jangan pernah takut melakukan hal yang mungkin terbilang anti-mainstream, karena lewat itu, kamu akan banyak tahu.

Selamat malam, kawan! Semoga kalian selalu sehat dan bahagia 🙂

Leave a Reply

Discover more from Blossom Laden

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading