Hari ini, saya mengalami hal yang cukup mind-blowing di beranda media sosial saya. Salah satu teman yang beberapa waktu yang lalu nangis-nangis minta diajari nabung dan berhemat, saat ini saya temukan dia hampir setiap hari hangout ke tempat-tempat kekinian tanpa tupoksi yang jelas. Saya akan maklum, jika hal tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab pekerjaannya, namun alih-alih demikian, justru seolah hanya ingin menunjukan eksistensi-nya sebagai “anak gaul masa kini”.

Manusia memang memiliki kecenderungan untuk menunjukan versi terbaik dari dirinya. Apalagi saat ini sudah ada platform yang memadai—salah satunya adalah media sosial. Hal magis yang media sosial tawarkan adalah “kita bisa menjadi apa yang kita inginkan” sehingga beberapa orang berlomba-lomba untuk menunjukan versi terbaik dirinya melalui platform ini. Seperti pisau bermata dua, saya percaya di balik pesatnya kemajuan dan pentingnya peran media sosial di dunia modern, pasti ada sisi gelap yang sebenarnya kita cukup naif menerimanya.

Kembali ke cerita saya di atas, apa yang saya amati ini tidak hanya satu atau dua kali terjadi. Banyak orang di sekitar saya memandang media sosial ini sebagai tolak ukur kebahagiaan, kemampuan bahkan strata sosial seseorang. Dari beberapa orang ini saya jadi tahu, bahwa sebuah momen seolah tidak pernah terjadi, jika tidak didokumentasikan dan dipublikasikan. They try so hard to show everything: their family, friendship, even romance for attention. Sampai-sampai lupa dengan konsekuensi yang terjadi setelahnya. 

Tingkah polah ini seolah menghilangkan sekat antara mana saja yang perlu diplublikasi ke khalayak dan mana saja yang hanya perlu kita nikmati oleh diri kita sendiri. Yang saya yakini, tidak semua hal perlu disampaikan melalui platform media sosial. Saya pernah dapat saran begini, “Jangan berlebihan taruh apa pun yang tidak permanen di media sosial baik itu relationship, job, even family. Karena ketika kamu kehilangannya, rasa beratnya bisa saja lebih berat dua kali lipat”. Kadang kita dibuat lupa bahwa ada yang lebih penting dari attention atau compliment ini, yaitu kebahagiaan yang nyata yang dapat kita rasakan tanpa kita repot-repot melaporkan kalau kita sedang bahagia.

Baca juga:  Jangan Menikah! Begitu Saran dari Beberapa Teman Yang Sudah Menikah

Saya tidak akan mengkritik orang yang membuat laman media sosial-nya sebagai wadah personal brandingnya. Saya justru mendukung dan ikut berbahagia dengan orang-orang yang mampu memanfaatkannya dengan baik. Bahkan bisa dijadikan sebagai side-hustle sampai full time job and I found it inspiring. Artinya mereka menggunakan media sosial untuk kepentingan mereka dengan benar, bukan sebaliknya, mengizinkan media sosial menggunakan ego kita sebagai manusia untuk terus menerus diperbudak olehnya. 

Karena di sini kita bicara pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, seharusnya semakin berkembang pesat, manusia harus ada otoritas atas teknologi bukan sebaliknya. Jika kalian masih tetap menafikannya, hal tersebut adalah sepenuhnya pilihan kalian. Maybe that’s just not a life that I choose. Cerita di atas hanya satu di antara kegelisahan yang ingin saya tulis, tanpa berusaha menyindir siapa pun karena sebatas menuangkan aspirasi pribadi. Si overthinker ini punya sekelumit hal klasik yang tidak pernah berhenti membelenggu pikirannya. 

Selamat malam, kawan!

Leave a Reply

Discover more from Blossom Laden

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading