Makna Lagu Nala di Album Manusia Tulus 2022Makna Lagu Nala di Album Manusia Tulus 2022

Salah satu aktivitas yang selalu menyenangkan versi saya adalah mendengarkan lagu kesukaan dengan khidmat sampai terbawa suasana yang dihadirkan oleh penyanyi-nya. Kadang sambil mendengarkan, pikiran saya berkelana membayangkan apa makna, tujuan atau pun cerita di balik lagu yang dikreasikan tersebut. Kali ini, sambil menikmati sore di depan jendela kamar, telinga saya dimanjakan oleh album baru Tulus berjudul Manusia. Saya dengarkan satu per satu lagunya sambil ditemani segelas kopi pahit dengan suasana sore selepas hujan. 

Sebelum album baru berjudul Manusia ini rilis, sebenarnya saya sudah beberapa kali mendengarkan single yang dirilis duluan berjudul Ingkar. Di awal Maret 2022 ini, akhirnya bisa mendengarkan seluruh lagu di dalam album Manusia ini dengan khidmat tanpa gangguan apa pun. Ada 10 lagu di dalam album ini, salah satu lagu favorit saya berjudul Nala. Telinga saya seperti memberikan sinyal yang berbeda saat mendengarkannya, sehingga saya berniat hati untuk memberikan pendapat saya atas lagu tersebut. 

Konsep yang diusung oleh lagu ini adalah bercerita. Diksi yang digunakan sederhana dan cukup menjelaskan perasaan Nala secara deskriptif. Saya kira, saat kalian mendengarkannya, pasti dengan mudah ikut merasakan sepenggal cerita yang sedang dialami tokoh bernama Nala ini. 

Mula-mula, kita diberikan gambaran betapa excited Nala yang sedang tak sabar berjumpa dengan seseorang. Saking excited-nya, dia persiapkan semua hal sebaik yang dia punya. Tahu kan? Jika kita hendak berjumpa dengan orang yang bisa dibilang spesial, pasti kita berusaha mempersiapkannya sebaik mungkin. Nah, di awal liriknya, kesan tersebut melekat di ingatan saya.

Sayangnya, Nala yang sudah mempersiapkan semuanya dan sudah menaruh harapan bahwa pertemuannya ini akan menjadi pertemuan yang tidak biasa, justru dibuat kecewa karena pertemuan mendadak dibatalkan. Karena yang ditunggu-tunggu malah tak bisa bertemu. Di situ lah Nala mulai sedih. Sepertinya, ini bukan kali pertama Nala merasakan perasaan seperti ini.

Baca juga:  Random-nya Ramadhan 2019

Dari lirik: lama Nala merasa sulit disuka, saya seperti menemukan adanya kesan insecurity dalam diri Nala. Ditambah lirik: hari besar baginya melihat benih cinta bagi nala itu langka, saya yakini perempuan ini merasa bahwa “dicintai” adalah sesuatu yang sukar didapatnya. Perempuan sederhana yang malang ini hanya butuh merasa dicintai dan sepertinya dia belum bisa mendapatkannya. 

Nala digambarkan sebagai perempuan kelahiran 92. Di tahun 2022—di mana lagu ini dirilis—artinya Nala saat ini berusia 30 tahun. Di Indonesia, kebanyakan perempuan yang sudah menginjak kepala tiga, seolah mendapatkan tekanan tersendiri berkaitan dengan urusan percintaan. Hal ini mungkin juga menjadi salah satu dorongan ia merasa insecure atau dirinya saat ini. 

Saya pun menemukan sisi inferior dalam dirinya, karena tanpa mengelak dan menunjukan rasa sedihnya, di ujung lirik diceritakan: Nala bertanya kapan ada waktu lain lagi di mana Nala justru berusaha baik-baik saja dan memilih untuk mengalah mencari waktu lain untuk bertemu. Dengan kata lain, ia  tetap berusaha untuk tetap merasa dicintai. Poor Nala! 

Sebenarnya apa yang diceritakan melalui penggalan lirik di lagu ini adalah secarik cerita yang mungkin pernah kita alami. Mungkin saja, setiap dari kita adalah Nala tanpa kita sadari. Seseorang yang sepenuhnya belum memahami sepenuhnya our worth. Settling for anything less. Confusing about what we’re getting and what we deserve. One thing, I really want to say: Sometimes we are confused and sad, but believe me we still have a choice to be happier and be accepted and loved no matter what.

By the way, sosok Nala mengingatkan saya dengan sosok lain di lagu Tulus  berjudul Tuan Nona Kesepian. Seperti ada benang merah atas cerita keduanya. Saya bertanya-tanya apakah Nala adalah sosok “Nona” saat ini? Tapi tidak ada yang tahu selain Tulus dan orang yang mungkin Tulus kehendaki untuk tahu. Entah apa yang ada di fikiran tulus atau apa yang sedang ia gelisahkan saat menulisnya, intinya, saya sungguh mencintai setiap lirik yang ia ciptakan. Indah sekali. 

Baca juga:  Menangislah, Berceritalah!

Source Imange: situstulus.com.

2 thoughts on “Tulus dan Lagu Berjudul “Nala””
  1. Bernala-nala dengan Nala! Sungguh menarik ulasannya, kakaaa.. Beneran deh. Saya sampai nyeletuk, “Kok bisa kepikiran sampai situ, sih!” pada bagian Nala yang berusia 30 tahun, yang insecure, yang kemungkinan mendapatkan tekanan dari masyarakat untuk segera dicintai, dan yang berpikir bahwa dia mencoba berdamai pada bagian akhir lagu tersebut. Dan, saya sangat suka kesimpulannya. Begitulah. Terima kasih atas tulisan bagusnya, kaka..

Leave a Reply

Discover more from Blossom Laden

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading