Sebelum membaca saya ingatkan untuk bebas berinterpretasi, menilai dan menerka-nerka.

Entalah, kata beberapa kawan, kesan pertama dalam melihat saya adalah sosok keibuan. Secara tidak sadar, saya merasa bahwa jika berinteraksi dengan anak kecil terkadang reaksi nyaman itu dapat saya rasakan dalam sentuhan, raut muka, nada, candaan, bahkan tangisnya/mereka. Namun semata karena saya sayang dengan mereka, bukan untuk hal lainnya.

Menjadi manusia yang sensitif terhadap tata laku dan gestur, membuat diri ini tidak lepas dari membaca, menebak pikiran orang lain dengan kemampuan intuitif yang kadang merepotkan ini. Terlebih, saya fikir, pikiran anak kecil—dimana kita pernah kecil dan melewati usia-usia mereka—memang lebih mudah ditebak dan dikira-kira maksudnya apa. Apalagi tuntutan pekerjaan yang saya geluti sekarang, tidak jauh dari lingkungan di atas.

Sederet rekan saya secara gamblang—dengan mulut embernya—didukung dengan air muka seyakin-yakinnya—mengatakan bahwa saya akan lebih dulu menikah daripada rekan sertaulan yang lain. Entah perspektif macam apa yang menghantui pikiran dan keimanan mereka sehingga kesimpulan tersebut seolah mutlak, tidak tercela. Kadang ter-gelitik sendiri sambil senyum-senyum jika memperhatikan polah mereka, me-respon dengan candaan dan serangan balik.

Padahal jika berkaca dari apa yang telah saya jaga, baik perkataan ataupun perbuatan, tidak sekalipun saya berani menyinggung perkara hal tersebut di depan khalayak umum. Karena terlalu gamblang masalah rencana pernikahan; tahun berapa akan menikah; umur berapa, akan menimbulkan kesan berlebihan, dan sesumbar.

Meskipun saya penganut ajaran ‘ucapan adalah doa’ namun bukan semata-mata membuat saya membicarakan hal sensitif ini secara terus terang ke semua orang—bahkan ke sahabat pun, saya masih berusaha menjaga. Apalagi dengan mengabarkan dengan gamblang jika ingin menikah di tahun sekian, umur sekian, dengan yang seperti ini, dengan yang seperti itu. Bukankah kalau sudah terucap beban jadinya? Biarkan hanya saya dan Tuhan yang tahu.

Baca juga:  Menangislah, Berceritalah!

Dalam kacamata awam masyarakat Indonesia, nampaknya wajar di umur yang sudah kepala dua ini menanyakan printilan berbau pernikahan. Frasa “Sudah Saatnya” membanjiri emansipasi pikiran saya sebagai seseorang yang masih perlu banyak belajar.

Jika ditarik pengalaman, mungkin raut wajah saya memang dirasa lebih tua dari usia saya. Ada pula yang mengatakan aura saya yang sudah representatif. Untuk beberapa kasus, orang-orang asing yang pertama kali melihat saya—tidak semua sih haha—akan memberikan sebuatan bu, bun, bunda atau ummi, dll. It is absolutely not a joke, yet I have experienced these ones for couple of times. Sebagai agen pendidikan mungkin sapaan bu terdengar sopan, tepat dan wajar, namun kadang tergidik jika sudah sampai bun, bunda ataupun ummi.

Duh, memang hidup dengan penuh privasi sulit di sini. Merasa enggak sih kadang orang-orang terlalu gemar membicarakan kesempatan dan waktu masing-masing. Seolah masih harus belajar menjadi manusia dewasa dalam menilai proses setiap orang.

Namun Tuhan memang selalu tahu apa yang terbaik. Saya yakini itu sepenuh hati, kebutuhan dan keinginan telah diukir-Nya dengan ciamik.

Selamat menjalani hari, kawan!

One thought on “Marwa, Kapan Menikah?”
  1. Memang lucu, ya. Baru juga pertama liat, kenal juga enggak. Cuma sebatas melihat, tapi entah rasanya ada kedewasaan dan ketenganan. But, by the way nice wedding outfit, your hat and your shoes catch my eyes 🙂

Leave a Reply

Discover more from Blossom Laden

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading