Mengelola Emosi, Menerima Keadaan dan Memaafkan

Semarang, Januari 2022

Tulisan ini ditulis dalam keadaan wajah kecut. Geram luar biasa. Bermula dari pagi tanpa sarapan hingga berlanjut ke kejadian-kejadian ajaib setelahnya. What a tough day!

Salah satu hal yang paling menenangkan selepas letih menjalankan hari yang berat seperti ini adalah dengan segelas kopi tubruk, mendengarkan lantunan musik atau bisa juga dengan menulis. Saya memang bukan penulis yang handal dan tidak pula bercita-cita ingin jadi penulis, namun rasanya ada kelegaan tersendiri bisa membagikan keluh kesah ke secarik kertas atau pos website seperti ini.

Sebagai manusia biasa, kalau sudah begini, cenderung jadi egois dan tidak mau diganggu gugat. Ingin menepi beberapa saat untuk berdiam diri sejenak guna menarik garis merah permasalahan dan mencoba mencari solusi terbaik.

Saya pernah diberikan saran, jika kita sedang marah terhadap suatu hal atau pun marah atas sikap orang lain, ada baiknya kita hindari untuk berucap banyak dan coba alihkan energi itu dengan mengambil waktu untuk berdiam diri beberapa saat. Karena terkadang amarah mampu membakar habis logika bahkan sampai hati nurani kita, yang khawatirnya membuat kita menyesal ke depannya.

Jika sedang dalam kondisi seperti ini, rasanya, saya semakin yakin bahwa manusia memang lah tidak sempurna. Kadang kita bisa tenang, kadang bisa juga kalut. Kadang jernih, kadang keruh.

Berbicara tentang handling emotion, kalau boleh jujur, perjalanan saya dalam mengelola emosi, menerima keadaan sampai proses memaafkan sebenarnya tidak mudah. Berkaca dengan keadaan kala itu, sebenarnya kehidupan Marwa kecil hingga Marwa remaja bisa dibilang jauh dari kata ideal. Setiap ditanya bagaimana bisa saya melewatinya? Saya juga tidak tahu, karena sepenuhnya terlaksana karena kebaikan Sang Maha Baik.

Baca juga:  “Tunjukan Gelarmu dan Pekerjaanmu Sekarang”

Yang saya tahu, bahwa kemarahan atau kekecewaan adalah bagian dari emosi manusia sama seperti senang atau pun bahagia. Jadi tidak perlu khawatir, semua itu wajar kita rasakan.

Memendam amarah dan kecewa berlarut-larut  tidak akan membuat hati tenang. Bukan berarti kita tidak boleh marah. Tentu saja boleh. Namun sewajarnya saja. Selepas reda, coba untuk ditelaah “kenapa kita bisa marah” dan mencari jalan ke luar terbaik untuk menyelesaikannya. Fokus untuk hal yang bisa kita kendalikan saat ini dan tidak perlu berusaha untuk merubah keadaan.

Satu prinsip yang sampai saat ini saya pegang teguh: “Kita tidak diciptakan untuk menjadi sempurna dan tidak pula diciptakan untuk membahagiakan semua orang, cukup jalani hidup sebaik-baiknya dan jadilah orang yang bermakna untuk orang-orang yang kamu sayang.”

Selamat awal bulan 2022, semoga kalian sehat selalu!

Leave a Reply

Discover more from Blossom Laden

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading