Mei 2021

I had a very weird dream, last night. Don’t laugh, okay? This writing belongs to my beloved one who had been a half-roommate and a half-sister for more than 4 years, Rafida Azzundhani.

Plot mimpi bermula dari aku yang sedang bangun tidur. Terbangun dalam suasana yang tak asing. Belum genap seluruh nyawa terkumpul, aku melihat sekitar dan tertegun beberapa saat. Aku berada di kamar C4-03!

Aku benar-benar bisa merasakan terik matahari pagi rusunawa di dalam mimpi tersebut. Bahkan masih dengan sprei yang sama. Latar suasananya adalah terang benerang (seingatku aku jarang punya mimpi begini). Aktivitas penghuninya belum banyak. Lebih banyak diisi keheningan dan suara “pagi khas rusun”.

Tak lama kamu datang, terengah-engah lari dari luar masuk melalui pintu kamar kita (kamu ingat kan, pintu yang selalu remidial jadi pintu–karena suka terbuka dengan sendirinya padahal sudah ditutup dengan rapat). Aku menangkap wajah penasaran kamu di situ, kamu berkata, “kok kita ada di sini ya, Mbak?”. Aku hanya menggelangkan kepala. Sama sekali tidak tahu apa yang terjadi juga.

Let me tell you, di mimpi itu, jelas-jelas kita adalah diri kita saat ini. Yang mana sudah lulus kuliah, bekerja dan saat ini sudah tinggal beda kota. Meskipun latarnya rusun, aku tidak sedang bermimpi kita kembali ke masa lalu dengan diri kita di masa lalu, melainkan kita bertemu sebagai diri kita sekarang di tempat yang pernah memberikan memori di perjalanan kita saat kuliah. Uniknya, tokohnya hanya aku dan kamu. Kita berdua.

Tak lama suasana mencair. Plot cerita yang ku ingat, kita justru jadi ngobrol. Kamu harus tahu, rasanya seperti nyata. Masih ingat betul, kita ngobrol ngalur ngidul, bahkan sempat ngobrol tentang Asa dan podcast barunya. Padahal di dunia nyata setelah ku konfirmasikan, Asa belum pernah buat podcast LOL.

Baca juga:  Beranda Media Sosial

Kita seperti terjebak beberapa saat di situ. Kita bahkan duduk di kasur satu sama lain. Kamu di atas kasurmu, aku pun berada di salah satu sudut kasurku. Kita saling lempar cerita memecah suasana pagi rusunawa. Kalau tidak salah ingat, kita juga bahas betapa beruntungnya kita bisa bertemu di sini (di mimpi ini) setelah sekian lama.

Masih di suasana yang sama, perlahan mimpi yang menyenangkan ini berakhir saat aku terbangun dari tidur. Aku menuliskan ini tepat setelah bangun, aku tulis seingat yang ku bisa.

Kita tahu, apa yang terjadi di hidup, belum tentu kita rasakan dua kali. Contohnya adalah pertemuan kita dan kehidupan penuh suka duka kita di rusun. Namun mimpi yang ku alami seolah menghempaskan fakta tersebut. Seperti ada kesempatan kedua kita bisa merasakan tempat itu lagi. Bahkan aku masih bisa merasakan damai saat kita bertemu. Dan rasanya nyata sekali.

Yup, it is like me being random as always, even in my dream. It feels so real, Raf. Wherever you are now, I hope you’re good, safe and always happy.

With all my heart,
Your Ex-roommates, but not your Ex-sister
Marwa

2 thoughts on “Sekamar Lagi”

Leave a Reply

Discover more from Blossom Laden

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading